Kamis, 09 Juli 2015

Perencanaan Konsep Ramah Lingkungan




Gerakan Hijau atau green movement berkembang pesat diseluruh dunia yang tujuannya tidak hanya sekedar melindungi sumber daya alam secara umum, tetapi juga pada penerapannya dalam rangka efisiensi penggunaan energi dan air serta meminimalisir kerusakan lingkungan hidup. Demikian juga kesadaran masyarakat dunia tentang lingkungan hidup, khususnya dalam bidang arsitektur, meningkat dengan tajam dalam dekade terakhir ini. Praktek rancang - bangun arsitektur dan industri konstruksi sedikit banyak telah berubah dan bergerak kearah bangunan yang ramah lingkungan, sebagai perwujudan sikap masyarakat yang semakin perduli terhadap lingkungan hidup.
Secara umum, “green building” atau bangunan ramah lingkungan yang juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang berkelanjutan, mengacu pada struktur dan menggunakan proses yang bertanggung-jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh siklus hidup bangunannya : mulai dari penentuan tapak, perencanaan, pelaksanaan konstruksi, penggunaan atau pengoperasian, pemeliharaan, renovasi hingga pembongkarannya.
Bagi seorang arsitek, merancang bangunan ramah lingkungan sesungguhnya adalah sebuah proses. Tujuannya bukanlah untuk menciptakan arsitektur bangunan yang sempurna, melainkan untuk menciptakan arsitektur bangunan yang lebih baik, lebih nyaman bagi penggunanya dengan memperhatikan serta bertanggung-jawab terhadap aspek-aspek lingkungan hidup disekitarnya. Menuju bangunan yang ramah lingkungan dapat dicapai dengan mengukur dampak pada lingkungan luar (bangunan) yang (akan) ditimbulkannya dan membantu memperbaiki lingkungan dalam (bangunan) sehingga menghasilkan rancang-bangun arsitektur yang lebih bertanggung-jawab terhadap kesehatan dan kenyamanan pengguna bangunan serta lingkungan disekitarnya. Biasanya beberapa aspek yang diperhatikan antara lain : rancangan arsitektur bangunan (baik secara Passive Design maupun Active Design), metodologi membangun, material bangunan, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan air dan life cycle ecological living.
Pendekatan umum yang menjadi prinsip-prinsip dasar bangunan hijau atau perancangan berkesinambungan (sustainable design) dalam konteks rancangan arsitektur yang ramah lingkungan ini meliputi berbagai hal, diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Pemilihan lokasi pembangunan di kawasan yang sesuai dengan peruntukan lahan dan telah tersedia jaringan fasilitas umum yang mendasar (misalnya : jaringan jalan, jaringan listrik, jaringan komunikasi, jaringan drainase, jaringan transportasi umum, jaringan pemadam kebakaran, dll) untuk menghindari terjadinya “urban sprawl” serta menghindari pengurangan area hijau akibat perambahan lahan baru untuk lokasi pembangunan yang baru. Selain itu, pemilihan lokasi yang tepat juga mengurangi carbon footprint melalui kemudahan akses serta ketersediaan fasilitas umum yang memadai bagi pengguna bangunan, baik dari maupun menuju bangunannya. 
  2. Rekayasa Iklim Mikro yang dimaksudkan untuk memperbaiki iklim dan suhu pada lingkungan disekitar bangunan yang akan berpengaruh terhadap suhu dalam bangunan, yang dapat ditempuh melalui beberapa cara, antara lain : Disain lansekap yang memadai, baik jenis, jumlah & fungsi masing-masing tanaman, dengan lokasi budidaya lokal yg relatif lebih cocok dengan iklim setempat (ditambah dengan wall garden / taman vertikal, roof garden, balcony plantation & indoor plantation) serta didukung oleh teknologi lansekap yg relatif murah dan sederhana (layering system, biopori, turf-pave, artificial but natural pond, dll) yang juga mengakomodir peresapan air ke dalam tanah terkait penanganan beban banjir setempat (storm water management) serta mengkonservasi air tanah.Pemilihan material perkerasan atau penutup non-atap bangunan yang memiliki nilai Solar Absorbtance (Solar Absorbtance adalah kemampuan suatu material untuk menyerap radiasi panas matahari) yang tinggi, sehingga mencegah radiasi panas matahari yang diterimanya tidak direfleksikan ke lingkungan disekitarnya yang bisa mengakibatkan penambahan beban pengkondisian udara atau cooling load pada bangunan disekitarnya. 
  3. Penentuan orientasi massa bangunan terkait orientasi matahari, dengan mengusahakan bidang massa terlebar / terbesar bangunan beserta bukaannya mengarah ke utara-selatan, serta bidang massa terkecil / tersempit yang mengarah ke timur-barat dan meminimalisir bidang bukaan pada arah ini. Hal ini dimaksudkan agar penerimaan beban panas matahari yg terbesar pada arah timur-barat bangunan dapat dikurangi, sehingga beban pengkondisian udara (cooling load) pada bangunan juga berkurang namun penggunaan cahaya alami pada bangunan dapat dimaksimalkan.
  4. Pemilihan material selubung bangunan & teknologi pemasangan yang tepat, yang dapat mengurangi RTTV (Roof Thermal Transfer Value) & OTTV (Overall Thermal Transfer Value) selubung bangunan secara signifikan, sehingga beban pengkondisian udara (cooling load) bangunan dan konsumsi energi listrik berkurang secara signifikan pula. Hal ini dapat ditempuh dengan berbagai cara, antara lain : Meminimalisir bukaan bangunan pada sisi timur-barat, sehingga mengurangi penerimaan beban panas matahari terbesar. Memaksimalkan bukaan bangunan pada sisi utara-selatan, sehingga memaksimalkan penggunaan cahaya matahari pada siang hari, namun meminimalisir penerimaan beban panas matahari. Memaksimalkan penggunaan ventilasi udara silang alami (natural cross ventilation) yang memungkinkan siklus pergantian udara dalam ruang memanfaatkan mekanisme alami, sehingga meminimalisir penggunaan ventilasi mekanik dan mengurangi penggunaan Air Conditioning untuk pengkondisian udara dalam ruangan. Jika selimut bangunan menggunakan material kaca, sebaiknya dipilih material kaca yang dilengkapi dengan lapisan khusus untuk mengurangi infiltrasi atau transfer radiasi panas matahari (misalnya : Low Emissivity Glass, dll) pada sisi terluarnya dan jika memungkinkan, sebaiknya menggunakan dinding kaca dengan sistem double glazing / double pane, dimana ruang diantara 2 lapis kaca pada dinding / jendela (biasanya diisi dengan gas khusus atau hampa udara) berfungsi sebagai penahan panas atau memerangkap radiasi panas matahari sehingga transfer panas dari luar bangunan ke ruang dalam bangunan berkurang secara signifikan. Menggunakan material penutup atap yang memiliki nilai albedo / Solar Reflectant Index yang tinggi serta menggunakan teknologi konstruksi atap yang dilengkapi dengan lapisan penahan panas (heat insulation). Apabila memungkinkan, sebaiknya dipertimbangkan untuk memanfaatkan bagian atap bangunan sebagai roof garden dan dilengkapi pula dengan teknologi konstruksi atap yang diberi lapisan heat insulation sehingga dapat mengurangi Roof Thermal Transfer Value (RTTV) bangunan secara signifikan. Apabila memungkinkan, dapat juga memanfaatkan sisi vertikal atau dinding pada bagian eksterior bangunan sebagai taman vertikal (atau lebih umum dikenal dengan vertical garden / wall garden) yang secara signifikan dapat mengurangi infiltrasi radiasi panas matahari ke ruang dalam bangunannya, dsb. 
  5. Mengoptimalkan pemanfaatan sinar matahari sebagai sumber cahaya alami utama pada siang hari, melalui pemanfaatan ruang-ruang di bagian kulit bangunan atau perimeter daylight area sebagai ruang-ruang aktif / ruang kerja dan dilengkapi dengan teknologi grouping & sensor pada sistem pencahayaan buatannya, sehingga mengurangi penggunaan artificial lighting atau cahaya buatan pada siang hari. 
  6. Menempatkan & menggunakan peralatan listrik yg efisien & efektif pada bangunan, yaitu : disain chiller & sistem AC yang tidak berlebihan, lampu hemat energi, elevator & escalator yang dilengkapi dengan auto-generated system & sleep mode, fitur listrik lainnya yang berbasis hemat energi, dsb. 
  7. Memanfaatkan sumber air alternatif, misalnya : menampung air hujan untuk dimanfaatkan sebagai sumber air bersih atau untuk siram tanaman, mendaur-ulang & memanfaatkan kembali air bekas (AC, wudhu, grey-water, dsb) serta jika memungkinkan agar memanfaatkan teknologi daur-ulang air (Water Treatment Plant) yang sesuai dengan kebutuhan bangunan.
  8. Menggunakan fitur-fitur yang hemat pada instalasi air bangunannya, misalnya : faucet / keran yang dilengkapi dengan automation system & aerator yang berfungsi mengurangi dan mengontrol volume keluaran air namun tetap menjaga tekanan air yang keluar relatif sama dengan fitur air yang konvensional, double-flush system pada kloset / WC, dsb. 
  9. Memilih material interior bangunan yang ramah lingkungan & sehat, misalnya : cat yang berbasis air & low-Volatile Organic Compounds, menghindari penggunaan material yang berbasis Ozone Depleting Potential, sebisa mungkin memanfaatkan material lama / bekas untuk didaur-ulang dan dipakai kembali (reuse & recycle), tidak menggunakan material berbahan asbestos, merkuri & formaldehyde, memilih material yang sumbernya regional berbasis ramah lingkungan & terbarukan, dsb sehingga kualitas udara dalam ruang dapat terjaga dengan baik yang berdampak positif bagi pengguna ruang dalam bangunannya sendiri. 
  10. Pengurangan & penanganan sampah, melalui penerapan prinsip “Reduce – Reuse - Recycle” serta pemilahan sampah untuk kemudian dapat diolah & dimanfaatkan kembali dalam bentuk maupun fungsi yang baru, misalnya : sampah makanan / organik dapat diolah dan dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos, sampah plastik & kertas dapat diolah & dimanfaatkan kembali menjadi perabotan / peralatan plastik & kertas daur-ulang, dsb.
Prinsip-prinsip perencanaan diatas berfokus terhadap bangunan yang memungkinkan interaksi yang baik antara manusia dengan lingkungan. Konsep ini berkaitan dengan adaptasi rancangan terhadap kondisi alam, urban design dan perencanaan tapak, serta tingkat kenyamanan bangunan yang akan dicapai. Hal ini berkaitan dengan keharmonisan hidup semua konstituen ekosistem: elemen non organik, organisme hidup dan manusia. Prinsip ini tumbuh dari filosofi pemikiran untuk menghargai keberadaan seluruh benda dan mahluk hidup di muka bumi.
Pada akhirnya, untuk dapat merancang bangunan yang ramah lingkungan, seorang perencana / arsitek harus belajar tentang masalah lingkungan hidup. Pendidikan arsitektur atau perencanaan bangunan harus dapat menumbuhkan keperdulian terhadap lingkungan dan memperkenalkan masyarakat kepada etika lingkungan, serta mengembangkan keahlian berdasarkan ilmu pengetahuan (knowledge base on sustainable design). Pengembangan keahlian berdasarkan ilmu pengetahuan adalah penting, tetapi perubahan gaya hidup dan sikap terhadap lingkungan tidak kalah pentingnya. So, let’s live green, not “looks” green.

Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

Pada dasarnya, konstruksi rumah yang baik adalah konstruksi yang menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan, dalam hal ini rumah ramah lingkungan. Sangat disayangkan, kurang dari satu persen bangunan di Indonesia masih belum menerapkan konsep konstruksi berkelanjutan ini. Konstruksi berkelanjutan merupakan prinsip pembangunan yang diterapkan mulai dari pemanfaatan bahan baku, perencanaan, infrastruktur, dan pengelolaan limbah.


Konsep konstruksi berkelanjutan menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu. Selain itu konstruksi berkelanjutan merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan yang merupakan proses pemeliharaankeseimbangan kehidupan secara ekologis, sosial, dan ekonomis.

Penggunaan bahan material sangat berperan besar dalam pelaksanaan konstruksi bangunan yang ramah lingkungan. Akibat pemanasan global berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam dunia bahan bangunan. Penggunaan material bangunan yang tepat dapat menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan.

Dalam proses pembangunan rumah ramah lingkungan sebaiknya dilakukan survei terlebih dahulu, untuk menentukan alternatif material bahan bangunan yang bersifat praktis dan mampu memberi solusi yang tepat bagi kebutuhan bangunannya. Pemilihan material bahan bangunan berpengaruh pada konsumsi energi bangunan tersebut. Pada saat didirikan, konsumsi energi bangunan tersebut berkisar antara 5-13% sedangkan 87-95% merupakan angka konsumsi energi bangunan selama masa hidup bangunan tersebut.

Sebagai contoh penggunaan material bahan untuk membangun rumah ramah lingkungan yaitu pembangunan bangunan hijau. Yang dimaksud bangunan hijau disini adalah bangunan yang menggunakan material bahan bangunan yang lebih memperhatikan keadaan alam.

Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;
tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami
Penggunaan baja ringan dan alumunium untuk kerangka bangunan utama dan atap mulai dilakukan sebagai pengganti material kayu. Beredarnya isu illegal logging akibat penebangan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian bumi. Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, anti karat, anti keropos, anti rayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.

Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.

Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).

Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap airrendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.

Penggunaan keramik pada dinding menggeser wallpaper merupakan salah satu bentuk inovatif desain. Dinding keramik memberikan kemudahan dalam perawatan, pembersihan dinding (tidak perlu dicat ulang, cukup dilap), motif beragam dengan warna pilihan eksklusif dan elegan, serta menyuguhkan suasana ruang yang bervariasi. Bangunan menggunakan bahan bangunan yang tepat, efisien, dan ramah lingkungan. Beberapa produsen telah membuat produk dengan inovasi baru yang meminimalkan terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumber daya alam tak terbarukan dengan optimalisasi bahan baku alternatif, dan menghemat penggunaan energi secara keseluruhan.

Bahan baku yang ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi. Beragam inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkan agar industri bahan baku tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri bahan bangunan sangat berperan penting untuk menghasilkan bahan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah lingkungan.

Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.

Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar. Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.

Di samping itu diperlukan teknik insulasi yang baik untuk meredam pancaran panas genteng ke ruang di bawahnya (kasur ijuk sangat baik sebagai isolasi atap di bawah genteng daripada nylon wool). Dalam ruang atap yang tertutup rapat, terjadi udara yang lebih panas dari sinar matahari atau suhu udara luar. Panas pada ruang atap akan dipancarkan ke bawah ke langit-langit dan dipancarkan lagi ke ruang fungsional di bawahnya.
Dalam hal sanitasi, septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus.

Kotoran diproses penguraian secara biologis dan filterisasi secara bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak yang dirancang khusus dan sistem desinfektan sarana pencuci hama yang digunakan sesuai kebutuhan membuat buangan limbah kotoran tidak menyebabkan pencemaran pada air tanah dan lingkungan.

Ikllim mikro di sekitar bangunan perlu dikendalikan dengan memanfaatkan tanaman hijau yang berdaun gelap dan lebat. Sangat ideal jika 30% – 70% volume ruang lahan bangunan terisi tanaman hijau dan 30% – 70% luasan permukaan tanah tidak ditutupi material keras.


Source : 

0 komentar:

Poskan Komentar